hi life!
Blog pribadi yang super pribadi.
Kenapa ya harus nulis di blog? because i dont have someone to talk :)
Jujur ini hal menyedihkan sih, kadang gua iri sama temen-temen gua yang dikelilingi sama orang-orang yang peduli sama dia. Bukannya ga bersyukur, gua pun Alhamdulillah dikelilingi orang-orang baik, perhatian, dan selalu menghibur gua. Cuma, gua belum bisa se terbuka itu sama mereka even my family. Gua merasa belum ada yang paham tentang apa yang gua rasain selain diri gua sendiri.
Tapi, nyimpen perasaan dan cerita berlarut-larut tuh gaenak banget sumpah. Kayak ada yang pengen dikeluarin tapi bingung mulai darimana.
So, i just start my story here.
Gua suka menulis, suka banget!
Dulu bahkan gua sempat menjadi author FF :D tapi ya biasa sih cerita teenlit klasik.
Sekarang, gua lebih suka tulisan gua jadi tempat dimana gua bisa mengekspresikan diri sepuasnya, tanpa mikirin perasaan orang lain atau mikirin hal lain yang menghambat pengekspresian emosi.
Gua harap, blog ini bisa jadi teman cerita lo ya je.
Hidup kok gaberasa ya. Masa dua bulan lagi gua 19 tahun, gaasik.
Tapi bebannya sih berasa banget ya.
Merasa semakin kesini makin terpaksa dewasa.
Ya dewasa itu harus, tapi kan nggak langsung tiba-tiba gitu, gua kaget aja.
Biasanya setiap tahun di hari ulang tahun gue, gue selalu nangis. Sebenernya yang ditangisin juga apa gua gatau.
Senin, 21/02/2022
Hari ini gatau rasanya hampa banget. Gua gatau deh maunya diri gua apa. Gua masih sedih dan sedih banget. Besok gua akhirnya pulang ke Jakarta, tapi gua gatau apakah keputusan itu tepat atau engga. Pernah nggak si lu hidup dalam kebimbangan? Gapernah bisa ngambil keputusan dan terkesannya memutuskan dengan grasa-grusu? Itu gua, sekarang ini. Semenjak menjalani per-utbk-an dan per-mandiri-an 2021 lalu, gua jadi merasa menyesal aas pilihan yang gua putuskan di hidup gua. Gua merasa memilih jalan yang salah, merasa kalau ternyata keputusan ini super duper menyiksa untuk dijalani. Mungkin, ini proses menjadi dewasa yang harus gua lalui, tapi nyatanya mental gua belum sepenuhnya kuat buat ngehadapinnya. Kalo ditanya kenapa, ya gua juga gatau jawabannya dimana. Gua udah berusaha mencari jawabannya tapi sampai sekarang gua belum nemu. Sebenarnya jawabannya dimana ya?
Kemarin gua jalan-jalan keliling Yogyakarta sama Shahnaz. Gua pikir hari itu akan baik-baik aja. Gua pikir gua bisa memaafkan diri gua dan berdamai dengan masalah yang ada. Tapi ternyata gua salah. Ga sepenuhnya yang gua inginkan itu terjadi. Pada akhirnya, gua nangis lagi, tapi kali ini nangisnya di depan Shahnaz. Gua gatau apa yang membuat gua menangis saat itu, yang jelas saat itu gua jujur bahwa 'dia' selalu muncul dan selalu memancing keributan di hidup ini. Oiya, mungkin gua belum kenalin ke kalian siapa itu 'dia'. 'Dia' itu adalah another side of me yang paling nggak gua suka. 'Dia' selalu muncul membawa berita kurang baik, menyiksa, dan menindas gua dengan kenangan traumatisnya. Gua takut, takut gabisa memaafkan segala lenangan trauma yang terjadi, takut akan ditinggal sendirian, takut akan gagal lagi, takut semua yang 'dia' bilang akan terjadi. Rasanya semua ketakutan itu terus-menerus menghantui gua. Hidup gua berubah hari demi hari. Berubah dan gatau berubah ke arah apa. Gua merasa semua jauh, menjauh, dan terlampau jauh. Merasa gua gapernah diterima dengan baik di lingkungan baru. Merasa terasingkan setiap ngumpul sama teman dan pikiran buruk lainnya. Bahkan, paling parahnya, 'dia' mengajak gua untuk menyudahi hidup ini.
Kenapa gua memutuskan untuk pulang ke Jakarta?
Karena gua merasa satu-satunya tempat yang menerima gua dengan segala bentuk kekurangan yang gua miliki adalah keluarga gua. Gua merasa aman di sana. Merasa bahwa ada yang memeluk gua meskipun rumah itu diam seribu bahasa. I know it such a privilege. I love my family that much. I dont want to lose them, because i only have them in my life.
Komentar
Posting Komentar